JABARTRUST.JAKARTA, – Utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) yang juga dikenal dengan nama Whoosh semakin membesar dan menjadi sorotan publik serta kalangan pemerintahan. Beban utang kini mencapai sekitar 7,2 miliar dolar AS atau setara Rp 116 triliun, menjadi tantangan besar bagi PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan konsorsium BUMN yang tergabung dalam PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI).
Chief Operating Officer Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya bersama manajemen KAI masih menjajaki berbagai mekanisme pelunasan beban utang proyek tersebut. “Ini sedang dalam proses penjajakan, belum ada keputusan final. Kami berupaya menyelesaikan secara baik sesuai dengan rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) 2025,” jelas Dony saat ditemui di Jakarta Selatan.
Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, menegaskan bahwa beban utang proyek ini merupakan “bom waktu” yang harus segera diatasi. Dalam rapat dengar pendapat di DPR RI, Bobby menyatakan bahwa proyek ini sangat membebani kondisi keuangan KAI, terutama karena jumlah utang yang terus membengkak.
Beban kerugian yang ditanggung PSBI juga cukup besar, tercatat kerugian sebesar Rp 4,195 triliun sepanjang tahun 2024 dan kerugian Rp 1,625 triliun di semester pertama tahun 2025. PSBI memiliki komposisi saham yang didominasi oleh KAI (58,53 persen), disusul PT Wijaya Karya (33,36 persen), PT Jasa Marga (7,08 persen), dan PTPN VIII (1,03 persen). Sedangkan dari pihak China, konsorsium China Railway menguasai 40 persen saham PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).
Utang besar ini tentu menimbulkan kekhawatiran, karena pendapatan dari tiket penumpang yang masih jauh dari target tidak dapat menutup beban pembayaran bunga, yang mencapai sekitar Rp 2 triliun per tahun. Proyeksi jumlah penumpang juga belum sesuai dengan perhitungan optimis.
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Adisatrya Suryo Sulisto, menyampaikan beberapa opsi solusi, salah satunya adalah mengalihkan kepemilikan proyek menjadi aset negara agar beban keuangan KAI lebih ringan. Alternatif lain adalah penerbitan obligasi atau pendanaan kolektif yang tidak mengubah struktur kepemilikan saham.
Dengan pembahasan intensif antara KAI dan Danantara, serta perhatian dari DPR, diharapkan utang proyek Whoosh dapat diatasi secara terencana tanpa mengganggu keberlangsungan pelayanan dan pengembangan sektor transportasi di Indonesia.