JABARTRUST.BANDUNG, – Jumat malam, 29 Agustus 2025, di depan Gedung DPRD Jawa Barat, suasana menegang saat ribuan massa aksi tetap bertahan meski sudah berkali-kali dibubarkan dengan gas air mata. Di tengah situasi genting tersebut, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, atau yang akrab disapa KDM, turun langsung menemui para pengunjuk rasa dalam upaya meredam emosi dan menghindari kerusuhan lebih lanjut.
“Ini saya lagi bersama masyarakat saya, masyarakat Jawa Barat,” ujar Dedi Mulyadi dari tengah kerumunan, seperti diunggah dari akun Instagram pribadinya @dedimulyadi71. Namun, kehadirannya tak sepenuhnya diterima dengan hangat. “Ada dukungan, namun sebagian juga menuduh ini sebagai upaya pengalihan isu,” kata KDM tentang reaksi massa.
Diungkap dalam video, saat Dedi Mulyadi menyampaikan pesan tegas agar massa tidak menyentuh Gedung Sate, para demonstran menjawab dengan kata “siap,” lalu mencuit dengan sapaan khasnya, “Bapak Aing.” Sayangnya, upaya dialog ini terusik saat aparat kembali menembakkan gas air mata yang makin memanaskan suasana.
Kondisi menjadi ricuh, dan Dedi Mulyadi bersama rombongan hampir terjebak di tengah amukan massa. “Pengawal saya sempat bersitegang dengan demonstran yang mengira mereka bagian aparat,” kata Dedi. Untungnya, ketegangan berhasil diredam setelah personel TNI turun tangan untuk menghindari bentrokan fisik lebih besar.
Mata Dedi terlihat berair dan hidung memerah, indikasi dampak gas air mata yang diterimanya saat berdialog. Bukti nyata bahwa ia tak hanya hadir sebagai simbol, melainkan ikut merasakan langsung tekanan dan kepedihan situasi di lapangan.
Meski upaya meredam berjalan, aksi di depan DPRD Jawa Barat tidak dapat sepenuhnya dikendalikan. Massa yang berkumpul sejak sore hari melancarkan aksi protes yang berujung pada pembakaran ban dan sejumlah fasilitas publik, termasuk aset negara yang hangus terbakar.
Ulah massa yang kian anarkis menjadi cermin kegelisahan masyarakat, terutama setelah tragedi kematian Affan Kurniawan, pengemudi ojol yang jadi simbol ketidakadilan dan kekerasan selama demo. Momen tersebut memperlihatkan betapa gentingnya situasi demokrasi yang sedang diuji di tengah tekanan dan ketidakpuasan masyarakat terhadap aparat dan pemerintah.***