JABARTRUST.BANDUNG, – Di tengah gegap gempita dunia musik yang sering kali dibalut dengan keahlian instrumen supermumpuni, Teenage Death Star (TDS), band asal Bandung, justru menyuarakan sesuatu yang berbeda. Sejak lahir pada 2002, mereka mengusung slogan sederhana tapi menggugah: kemampuan bermain alat musik bukanlah hal utama untuk meraih panggung musik.
Vokalis sekaligus sosok sentral band ini, Dandi Achmad Ramdani—akrab disapa Achong—membuka cerita di balik pembentukan TDS yang hanya ingin “bersang-senang.” Menurutnya, tujuan utama adalah menikmati musik, menghibur diri sendiri, dan jika beruntung, menghibur orang lain. “Kami bikin band tanpa ribet mikirin skill. Manggung pertama aja, kami nggak punya lirik, saya cuma teriak-teriak,” kenang Achong dengan tawa khasnya.
Meski kualitas teknis para personel—termasuk drumer Firman Zaenudin, gitaris Alvin Yunata, bassist Satria Nurbambang alias Iyo, dan gitaris Helvi Sjarifudin—terbilang biasa saja, mereka tetap konsisten dengan semangat dan jati diri mereka sebagai musisi. Baginya, sebuah slogan memang menjadi simbol yang mudah dipahami oleh pendengar, sebuah cara sederhana untuk menyampaikan eksistensi tanpa perlu rumit.
TDS tak segan memperlihatkan sisi eksperimentalnya, seperti lagu unik berjudul I Don’t Know What is Right Anymore yang hanya berisi tawa. Lagu tersebut, menurut Alvin, punya makna dalam bagi mereka—sebuah refleksi atas kebingungan akan standar “benar” dalam bermusik. Dia bahkan mempertanyakan sistem pembelajaran musik formal yang menurutnya “doktrinatif”—mengajarkan chord dasar seperti A, C, dan D secara normatif.
“Terkadang kita bertanya, siapa yang menciptakan standar itu? Apakah semua harus diikuti begitu saja?,” tutur Alvin.
Meski begitu, TDS berhasil mengukir pencapaian luar biasa tanpa bergantung pada teknik sempurna. Mereka ikut berkontribusi dalam album kompilasi bergengsi JKT: SKRG pada 2004, bersanding dengan nama-nama besar seperti Seringai dan White Shoes and The Couples Company. Lagu-lagu mereka bahkan masuk sebagai soundtrack film terkenal seperti Janji Joni dan Catatan Akhir Sekolah pada 2005.
Namun, keunikan TDS bukan soal kemajuan teknis. Achong mengakui bahwa kemampuan mereka tidak banyak berkembang sepanjang waktu. “Orang bilang semakin tua skill makin naik, tapi kalau mau lihat, dengerin aja album kami, apa ada yang berubah?” ujarnya sambil tertawa.
Hingga kini, TDS hanya mengeluarkan satu album resmi, Longway to Nowhere (2008). Sebuah album kedua, The Backyard Tapes – Early Years 88-91 (2010), yang berisi materi live dan eksperimental, mereka pilih untuk tidak menyebutnya sebagai album resmi.
Dengan pendekatan apa adanya, jadwal manggung yang terus bertambah, dan semangat yang tetap menyala, Teenage Death Star menggambarkan sebuah kisah unik: sukses bermusik bukan harus selalu tentang sempurna, tapi soal keberanian untuk tetap bermain dengan jujur dan menghibur dari hati.