JABARTRUST.BANDUNG, – Setelah kehebohan yang ditimbulkan film Merah Putih: One for All, hadir Panji Tengkorak, film animasi produksi Falcon yang membawa warna berbeda di industri animasi Indonesia. Jika Merah Putih terasa seperti mi instan yang belum matang, Panji Tengkorak justru suguhkan ‘hidangan’ yang lebih kaya dari sisi visual, teknis, hingga alur cerita.
Diangkat dari komik legendaris karya Hans Jaladara, Panji Tengkorak tidak menyuguhkan cerita anak-anak yang ringan dan penuh canda. Film ini menyajikan kisah kelam, penuh darah, dan pertarungan sengit yang membawa penonton pada pengalaman menonton yang serius dan intens. Panji (diperankan suaranya oleh Denny Sumargo) adalah seorang pendekar yang kehilangan kekasihnya dengan tragis, lalu menjual jiwanya pada ilmu hitam demi membalas dendam, yang kemudian menjeratnya dalam kutukan kelam.
Cerita film ini sarat dengan lapisan makna, membuat penonton mempertanyakan garis antara kebaikan dan kejahatan. Meskipun di awal terasa lambat dan membosankan, pada babak kedua, adegan pertempuran mulai menghadirkan ketegangan yang memikat.
Secara visual, animasi Panji Tengkorak mengingatkan pada gaya serial populer seperti Avatar: The Legend of Aang dengan gerakan yang sebagian mulus, walaupun masih ada bagian yang terlihat kaku. Pertarungan dan efek supranaturalnya menghadirkan sensasi fantasi Asia klasik dengan nuansa lokal yang kuat. Meski demikian, animasi ini masih butuh penyempurnaan untuk mencapai standar internasional.
Salah satu nilai tambah film adalah karakter Kuwuk (disuarakan Candra Mukti), yang hadir sebagai penyegar dengan dialog jenaka dan penggunaan bahasa Jawa yang membuat suasana serius menjadi lebih ringan. Voice acting Kuwuk mendapat pujian karena ekspresi dan daya hidupnya, meski sayangnya suara karakter lain, termasuk Denny Sumargo, terasa kadang berlebihan dan kurang natural.
Di sisi lain, penempatan soundtrack menjadi catatan penting. Lagu “Bunga Terakhir” yang dipakai pada adegan klimaks justru mengurangi intensitas pertarungan karena terasa kurang pas dengan suasana, sehingga mengganggu fokus penonton.
Selain itu, beberapa adegan penting, seperti pembantaian desa yang tampil dalam trailer, tidak diperlihatkan secara penuh dalam film dan cuma diceritakan lewat narasi, membuat impact cerita jadi menurun. Dialog yang terlalu baku dan kaku juga jadi tantangan bagi penonton modern yang mungkin menginginkan bahasa yang lebih natural dan mengalir.
Meski begitu, Panji Tengkorak adalah sebuah langkah maju yang patut diapresiasi bagi animasi Indonesia. Film ini menunjukkan keberanian membawa cerita dewasa dan membuktikan bahwa karya animasi lokal bisa masuk ranah lebih serius dan kompleks. Dengan perbaikan di berbagai aspek teknis dan pengemasan cerita, Panji Tengkorak memiliki potensi mengangkat standar industri animasi Tanah Air ke level yang lebih tinggi.
Bagi pecinta animasi yang haus akan karya berbeda dan tidak takut dengan cerita gelap serta aksi berdarah, Panji Tengkorak tetap layak dinikmati sebagai bukti perkembangan baru dalam perfilman animasi Indonesia.