
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, secara resmi menetapkan bahwa seluruh siswa mulai dari PAUD hingga SMA harus masuk sekolah pada pukul 06.30 WIB. Kebijakan ini menuai protes dari banyak pihak, terutama orang tua, namun gubernur tetap kukuh menjalankan kebijakan tersebut dengan alasan untuk menanamkan kedisiplinan sejak dini. Apalagi kebijakan ini sejalan dengan program pengiriman anak “nakal” ke barak militer untuk pelatihan mental dan kedisiplinan.
Pertanyaan penting muncul: apakah kedisiplinan anak dapat terbentuk hanya dengan mewajibkan mereka datang lebih pagi? Studi kesehatan dan pendidikan usia dini justru menunjukkan bahwa masuk sekolah terlalu pagi bisa kontraproduktif. Anak-anak mengalami kelelahan akibat kurang tidur, yang berdampak negatif pada pencapaian akademik dan kesehatan mental mereka. Apalagi anak usia dini yang perlu waktu bermain dan bersosialisasi, dipaksa bangun lebih pagi justru bisa menghambat perkembangan mereka.
Kebijakan ini juga menandakan kegagalan tata kelola kota dan sistem pendidikan di Jawa Barat. Beberapa masalah mendasar yang belum terselesaikan antara lain, masih ada 128 kecamatan di Jawa Barat yang belum memiliki SMA/SMK negeri. Sekolah favorit menampilkan di kota besar seperti Bandung, Bogor, dan Depok, sehingga orang tua harus mengantar anak ke sekolah yang jauh.
Kurangnya transportasi umum yang andal membuat banyak siswa harus menempuh perjalanan panjang dan melelahkan. Waktu tempuh yang ideal seharusnya sekitar 30 menit, bahkan di negara maju hanya 16 menit. Namun di Jawa Barat, perjalanan sekolah bisa jauh lebih lama.
Jumlah perpustakaan, taman, dan fasilitas olahraga sangat terbatas. Padahal, anak-anak membutuhkan ruang publik yang aman dan nyaman untuk tumbuh dan berkembang.
Sekitar 44 persen rumah tangga di Jawa Barat tinggal di rumah tidak layak huni, yang berdampak pada kenyamanan dan konsentrasi belajar anak.
Kota tidak dirancang sebagai ruang yang aman untuk anak-anak berekspresi dan beraktivitas. Orang tua pun menjadi lebih protektif karena kekhawatiran akan keamanan.
Alih-alih memperbaiki masalah-masalah mendasar tersebut, anak-anak justru “dihukum” dengan diwajibkan masuk sekolah lebih pagi. Kebijakan ini menormalisasi perjalanan panjang dan kondisi kota yang belum mendukung aktivitas pagi hari. Kota-kota di Jawa Barat belum memiliki infrastruktur sosial, pendidikan, transportasi, dan kesehatan yang memadai untuk mendukung tumbuh kembang anak-anak.
Jika tujuan utama adalah membentuk kedisiplinan, maka pemerintah harus fokus pada pembangunan sistem pendukung yang nyata, seperti menyediakan transportasi umum yang aman, andal, dan terjangkau khusus untuk anak sekolah, membangun fasilitas sosial dan ruang publik yang ramah anak, menyebarkan penyebaran sekolah yang merata dan berkualitas, dan menjamin hunian layak dan lingkungan yang aman bagi keluarga.
Budaya disiplin dapat tumbuh secara alami jika lingkungan sekitar mendukung. Anak-anak belajar dari contoh orang dewasa dan lingkungan mereka. Dengan sistem transportasi yang tertib, fasilitas yang memadai, dan kota yang aman, kedisiplinan dan kedamaian akan terbentuk tanpa harus memaksa mereka berangkat lebih pagi.