
Di balik gegap gempita sejarah perjuangan Indonesia, nama Marhaen berdiri sebagai simbol rakyat kecil yang menjadi inspirasi utama bagi ideologi besar bangsa ini, yaitu Marhaenisme . Sosok sederhana ini, seorang petani gurem dari pinggiran Bandung Selatan, telah mengukir jejak yang tak lekang oleh waktu dalam perjalanan politik dan sosial Indonesia.
Ki Marhaen , yang wafat pada tahun 1943, kini dimakamkan di sebuah sudut di Jalan Batununggal, Kampung Cipagalo, Kelurahan Mengger, Kecamatan Bandung Kidul, Kota Bandung. Lokasi Makamnya tersembunyi di antara lorong-lorong pemukiman sempit padat penduduk, hanya bisa diakses melalui gang kecil yang berkelok dan cukup untuk dilewati dua motor. Ada dua jalur menuju makam ini, yakni dari arah Jalan Bojongsoang menuju Mengger, atau melalui Perumahan Batununggal Indah.
Makam Ki Marhaen berada di dalam sebuah bangunan berpagar yang tidak terkunci, tidak hanya menampung makamnya sendiri, tetapi juga makam istrinya dan Mang Damin, sosok yang mengenal seluk-beluk kehidupan Ki Marhaen. Di pintu masuk terdapat plakat yang menandai pemugaran pertama makam oleh Yayasan Saluyu Bandung pada tanggal 5 April 1981, sebuah upaya pelestarian warisan sejarah yang penting.
Kisah Ki Marhaen menjadi legenda berkat pertemuannya yang tak disengaja dengan Soekarno pada tahun 1920-an. Saat itu, Soekarno yang bolos kuliah berkeliling Bandung dengan sepeda, bertemu dengan seorang petani sederhana yang tengah bekerja di sawah kecil miliknya. Percakapan singkat itu membuka mata Soekarno tentang kondisi rakyat kecil yang berjuang keras dengan alat seadanya, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Saya juragan. Ini tanah turun temurun. Diwariskan dari orang tua,” kata Marhaen saat ditanya Soekarno tentang kepemilikan sawah. Ketika ditanya hasil panen untuk siapa, jawabnya sederhana, “Untuk saya gan, hasilnya hanya cukup untuk hidup sehari-hari.”
Dari pertemuan itu, Soekarno mendapatkan ilham besar. Ia memotret rakyat kecil seperti Marhaen sebagai simbol rakyat Indonesia yang tertindas dan miskin, yang kemudian menjadi dasar dari ideologi Marhaenisme . Marhaen bukan hanya nama seseorang, melainkan lambang bagi jutaan rakyat yang hidup dalam keterbatasan, memiliki alat dan tanah yang kecil, serta berjuang tanpa ada yang menghisap tenaga mereka.
Menurut Soekarno, “Seorang Marhaen adalah orang yang memiliki alat-alat yang sedikit, orang kecil dengan milik kecil, dengan alat-alat kecil, cukup untuk dirinya sendiri. Bangsa kita yang puluhan juta jiwa, yang sudah dimelaratkan, bekerja bukan untuk orang lain dan tidak ada orang yang bekerja untuk dia. Tidak ada pengisapan tenaga oleh orang lain. Marhaenisme adalah Sosialisme Indonesia dalam praktik.”
Lebih dari sekadar ideologi, Marhaenisme menjadi simbol kebangkitan nasional dan penemuan kembali jati diri bangsa. Soekarno dengan lantang menyatakan, “Perkataan Marhaenisme adalah lambang dari penemuan kembali kepribadian nasional kami.”
Kini, Makam Ki Marhaen bukan hanya menjadi tempat peristirahatan terakhir seorang petani sederhana, namun juga menjadi saksi bisu perjalanan sejarah yang menginspirasi bangsa Indonesia untuk terus berjuang demi keadilan sosial dan kemerdekaan sejati. Dibalik singkatnya, Marhaen mengajarkan bahwa kekuatan sejati bangsa terletak pada rakyat kecil yang gigih dan penuh harapan.