JABARTRUST.BANDUNG, – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala BKKBN, Wihaji, menegaskan bahwa era program keluarga berencana (KB) yang berfokus pada kontrasepsi sudah mencapai target nasional dan dinyatakan selesai. Pendekatan kontrasepsi, yang ditandai dengan angka kelahiran total (Total Fertility Rate/TFR) sebesar 2,1, berhasil memenuhi syarat untuk pertumbuhan penduduk yang seimbang.
“Inti dari kependudukan adalah memastikan penduduk terkendali dengan metode kontrasepsi untuk mencapai TFR antara 2,0 sampai 2,1. Saat ini, pendekatan kontrasepsi sudah selesai, TFR kita sudah oke,” ujar Wihaji saat memberikan kuliah umum dalam Musyawarah Kerja Nasional Ikatan Penyuluh Keluarga Berencana (Mukernas IPeKB) di Bandung.
Dengan keberhasilan ini, paradigma program KB bergeser menuju pengelolaan kependudukan dan pembangunan keluarga secara lebih luas. Wihaji menambahkan bahwa meskipun target nasional tercapai, masih ada daerah-daerah prioritas dengan TFR tinggi dan laju pertumbuhan penduduk signifikan, seperti Bandung Barat, Bandung, dan Cianjur, yang harus terus menjadi fokus edukasi keluarga berencana.
Konsep utama yang diusung adalah grand design pembangunan kependudukan, yang mencakup perencanaan kebutuhan dasar seperti rumah sakit, sekolah, perumahan, dan lapangan kerja sesuai dengan proyeksi jumlah penduduk di tingkat provinsi atau daerah. Misalnya, Jawa Barat dengan populasi sekitar 55 juta harus menyiapkan berbagai fasilitas publik yang memadai sesuai kebutuhan penduduknya.
Wihaji menekankan pentingnya fondasi keluarga, yang dimulai dari calon pengantin (catin). Ia menegaskan bahwa usia ideal menikah adalah 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki untuk mengurangi risiko stunting dan membangun keluarga berkualitas secara ekonomi dan kesehatan.
“Setelah menjadi pasangan usia subur (PUS), pasangan tersebut akan menjalani siklus kehidupan yang kami pantau dan layani melalui lima quick wins Kemendukbangga, berupa solusi atas masalah utama pada siklus kehidupan keluarga di Indonesia,” jelas Wihaji.
BKKBN kini tak hanya fokus pada kontrasepsi, tetapi juga mengintegrasikan berbagai sektor untuk menyelesaikan masalah yang tidak bisa diatasi secara sektoral, seperti penanganan stunting dan pendidikan. Usaha ini melibatkan penggabungan pengetahuan, sikap, dan perilaku untuk perubahan yang berkelanjutan.
“Metafora sederhana: kontrasepsi adalah sepeda motor yang harus lengkap dan aman untuk digunakan. Kami bertugas memastikan semua aspek itu terpenuhi agar keluarga sehat dan tumbuh optimal,” pungkasnya.