BANDUNG | JABARTRUST — Suasana budaya terasa kental pada Ahad, 16 November 2025, saat Workshop Angklung: Bersuara Bersama, Melestarikan Budaya digelar di Metro Indah Mall lantai 3, Jl. Soekarno-Hatta, Sekejati, Kecamatan Buahbatu. Kegiatan yang berlangsung pukul 12.30–16.00 ini menghadirkan antusiasme tinggi, terutama dari peserta usia dini.
Dalam workshop ini, metode pembelajaran angklung dibuat lebih sederhana dan menyenangkan. Bukan lagi menggunakan isyarat tangan yang kompleks, para peserta diperkenalkan dengan teknik mengenali nada menggunakan nama-nama buah. Metode tersebut dinilai lebih mudah dipahami anak-anak sehingga proses diskusi dan pembelajaran berlangsung lebih interaktif.

“Untuk anak-anak kecil memang agak sulit jika langsung dikenalkan pada konsep notasi. Maka metode seperti penggunaan nama buah-buahan sangat membantu supaya mereka bisa mulai mengenal nada secara bertahap,” ujar Ledia Hanifa Amaliah Anggota DPR RI.
Selain itu, para instruktur juga memilih lagu-lagu sederhana yang akrab di telinga anak-anak. Tujuannya agar proses adaptasi lebih cepat sebelum mereka memasuki tahapan berikutnya seperti belajar grouping dan aransemen. Para pengajar menegaskan bahwa bermain secara berkelompok seringkali menjadi tantangan baru bagi anak-anak, namun menjadi proses penting dalam pembinaan musikal dan kebersamaan.
Dalam kesempatan tersebut, para pembina budaya juga menekankan pentingnya menjaga, memanfaatkan, dan mensosialisasikan warisan budaya dunia seperti angklung. Pemeliharaan budaya tidak hanya dilakukan melalui kegiatan seni, tetapi juga lewat inovasi.

Bandung bahkan tengah mencatat sejarah baru dengan munculnya pengembangan “angklung piano” yang saat ini dalam proses pengurusan paten. Inovasi dari salah satu kampus di Bandung ini menggabungkan sistem tuts piano dengan suara angklung. Dengan pendekatan tersebut, pemain dapat menghasilkan suara angklung menggunakan tuts yang mempermudah permainan dan memungkinkan eksplorasi nada yang lebih luas.
“Ini bagian dari terobosan baru dalam teknologi permainan angklung. Kita berharap inovasi seperti ini menjadi langkah penting untuk memastikan warisan budaya tidak hilang dan terus relevan bagi generasi mendatang,” tambah salah satu narasumber.
Melalui workshop ini, diharapkan semakin banyak anak-anak dan masyarakat umum yang mulai mengenal dan mencintai angklung sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia yang telah diakui dunia.