
Selain dikenal dengan kisah heroik Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat, juga menyimpan mahakarya arkeologi yang tak kalah mengagumkan: Kompleks Percandian Batujaya. Situs ini diyakini sebagai kompleks candi Buddha tertua dan terbesar di Pulau Jawa, bahkan di Indonesia, namun masih belum banyak dikenal, baik oleh masyarakat lokal maupun wisatawan.
Kompleks percandian Batujaya membentang luas di antara Desa Segaran dan Telagajaya, Karawang, dengan habitat yang tersebar di areal lebih dari 5 hektar. Ketika pertama kali ditemukan pada tahun 1984, banyak yang mengira gundukan-gundukan tanah di sana hanyalah bagian dari lanskap biasa. Padahal, di balik tanah itu tersimpan sejarah yang sangat panjang.
Dari 24 lokasi temuan, 13 di antaranya berada di Desa Segaran, sisanya di Telagajaya. Uniknya, batu-batu candi di Batujaya masih terhampar di antara pematang sawah, jauh dari kesan megah dan terawat seperti Borobudur atau Prambanan. Namun, justru di situlah letak keaslian dan pesona Batujaya.
Secara geografis, Batujaya terletak di kawasan yang setiap tahun menerima limpahan lumpur dari Sungai Citarum dan sungai-sungai lain di sekitarnya. Akibatnya, sebagian besar struktur candi kini berada 1-2 meter di bawah permukaan tanah. Catatan sejarah pun sangat minim, karena hingga abad ke-17, kawasan ini hanyalah rawa-rawa tak berpenghuni sebelum Belanda mengubahnya menjadi lahan pertanian.
Namun, temuan arkeologis seperti fragmen tembikar tipe “rolet roman” dari abad pertama Masehi menunjukkan bahwa kawasan ini sudah masuk dan menjadi bagian dari jalur perdagangan internasional sejak masa prasejarah. Letaknya yang hanya berjarak sekitar 6 kilometer dari pantai utara Jawa Barat memperkuat dugaan bahwa Batujaya pernah menjadi pusat organisasi dan pelabuhan penting bagi masyarakat Sunda Kuno.
Penelitian sejak arkeologi 1992 mengidentifikasi 24 lokasi bangunan candi, yang sebagian besar dikenal masyarakat setempat sebagai “unur” atau gundukan tanah. Beberapa candi utama yang telah dipugar antara lain Candi Jiwa dan Candi Blandongan.
- Candi Jiwa terletak di tengah sawah, berbentuk lonjong setinggi 4 meter, dengan struktur bata berlapis 47 tingkat. Di puncaknya terdapat formasi bata melingkar, diduga bekas stupa, mirip dengan Candi Sumberawan di Malang, Jawa Timur.
- Candi Blandongan memiliki denah bujur sangkar berukuran 24,2 x 24,2 meter, bertingkat tiga, dan memiliki empat tangga masuk yang menghadap empat penjuru mata angin. Lantai dan dindingnya dilapisi adonan kapur dan kerikil, serta dilengkapi “pipi tangga” setebal 40 cm.
Selain struktur bangunan, ditemukan pula berbagai artefak penting seperti meterai tablet tanah liat berelief Buddha Amitabha, penggalan prasasti beraksara Pallawa, serta arca-arca terakota yang menampilkan pengaruh kuat agama Buddha. Temuan ini menegaskan bahwa Batujaya adalah satu-satunya kompleks candi Buddha di Jawa Barat, dan bahkan mungkin yang tertua di Indonesia, dibangun pada abad ke-6 hingga ke-7 Masehi.
Berbeda dengan candi-candi besar di Jawa Tengah dan Yogyakarta, Batujaya masih tampak alami dan belum sepenuhnya dipugar. Namun, keaslian inilah yang menjadi daya tarik tersendiri. Kompleks ini mudah diakses, hanya perlu mengikuti rute Rengasdengklok – Pantai Pakis, Karawang, baik dengan kendaraan pribadi maupun umum.
Sayangnya, dukungan untuk pengembangan dan pemugaran Batujaya masih sangat terbatas. Padahal letaknya yang relatif dekat dari Jakarta memberikan potensi ekonomi dan wisata yang sangat besar. Jika penelitian dan pengelolaan dilakukan secara profesional, bukan tidak mungkin Karawang akan dikenal sebagai “lumbung candi” di masa depan.
Batujaya adalah saksi bisu perjalanan panjang peradaban di tanah Sunda, dari masa prasejarah, kejayaan pelabuhan kuno, hingga penerimaan agama Buddha sebelum munculnya Kerajaan Tarumanegara. Kompleks ini bukan hanya warisan arkeologi, tetapi juga simbol keterbukaan dan dinamika masyarakat Jawa Barat di masa lampau.
Sudah saatnya Batujaya mendapatkan perhatian lebih, baik dari pemerintah, akademisi, maupun masyarakat, agar warisan sejarah ini tidak kembali terkubur oleh waktu dan lumpur. Dengan pengelolaan yang tepat, Batujaya bisa menjadi destinasi wisata sejarah unggulan sekaligus sumber inspirasi bagi generasi mendatang.