JABARTRUST.BANDUNG, – Sesar Lembang bukan lagi sekadar ide atau peringatan di balik layar. Dalam beberapa bulan terakhir, Kabupaten Bandung Barat merasakan getaran nyata dari rentetan gempa kecil yang menandakan aktivitas sesar tersebut mulai aktif kembali.
Nur Djulaeha, Ketua Komisi IV DPRD Bandung Barat dari Fraksi PKS, menegaskan bahwa potensi bencana ini bukan lagi hal sepele, melainkan ancaman yang harus ditanggapi serius. “Sesar Lembang bukan mitos. Ia nyata, aktif, dan mengancam kawasan padat penduduk,” ujarnya tegas.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memberi peringatan serius, menyebut gempa berkekuatan magnitudo antara 6 hingga 7 sangat mungkin terjadi. Dampaknya dapat dirasakan meluas dari Lembang, Parongpong, Cisarua, hingga ke Ngamprah dan Cimahi Utara. Beberapa daerah di Jawa Barat sudah mulai melakukan langkah-langkah kesiapsiagaan seperti simulasi evakuasi dan penguatan jalur penyelamatan. Namun sayangnya, Bandung Barat cenderung lambat dalam merespons dengan cara yang terstruktur.
Menurut Nur, pemerintah daerah Bandung Barat belum mengintegrasikan mitigasi bencana ke dalam kebijakan, anggaran, dan program edukasi masyarakat secara efektif. Hal ini kontras dengan beberapa daerah lain yang sudah lebih maju dalam membangun sistem kesiapsiagaan bencana.
Padahal, potensi sosial Bandung Barat sangat besar. Komunitas relawan, tokoh kebencanaan, dan masyarakat setempat dikenal gesit dan sudah terbiasa merespons situasi darurat. Sayangnya, tanpa dukungan pemerintah yang terstruktur, kemampuan ini belum dapat dioptimalkan.
Nur mengingatkan bahwa keberadaan relawan yang memahami medan dan risikonya harus didukung secara sistematis agar kesiapsiagaan bencana berjalan efektif. Aktivasi kesadaran masyarakat merupakan bagian penting dari mitigasi, sekaligus refleksi atas lambatnya respon pemerintah.
Sebagai langkah konkrit, Nur mendorong agar revisi APBD tahun 2025 dan anggaran 2026 memasukkan program mitigasi yang langsung menyentuh masyarakat. Audit kesiapsiagaan, pelibatan komunitas, serta edukasi berkelanjutan menjadi prioritas yang tidak bisa ditunda.
“Menghadapi gempa bukan pilihan, tapi kewajiban yang harus dijalankan bersama-sama sekarang, tanpa menunggu bencana besar datang,” tutupnya.