Home NewsMetro BandungTak Hanya Isi Piring: Program Makan Bergizi Diarahkan Jadi Motor Pengelolaan Sampah Ramah Lingkungan

Tak Hanya Isi Piring: Program Makan Bergizi Diarahkan Jadi Motor Pengelolaan Sampah Ramah Lingkungan

by sj
14 views

BANDUNG.JABARTRUST.ID, – Badan Gizi Nasional (BGN) menekankan pentingnya peningkatan kualitas pelayanan bagi para penerima manfaat dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi. Selain menyediakan gizi, pemerintah daerah juga didorong untuk ikut aktif mengelola residu atau sisa kegiatan program, terutama sampah yang dihasilkan dari aktivitas dapur MBG.

Wakil Kepala BGN Bidang Operasional Pemenuhan Gizi, Sony Sonjaya, menjelaskan bahwa kegiatan konsolidasi program MBG untuk wilayah Bandung Raya diadakan untuk menyatukan pemahaman seluruh pihak yang terlibat. “Sore ini Alhamdulillah kami dapat melaksanakan kegiatan konsolidasi program MBG untuk wilayah Bandung Raya, yaitu Bandung, Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Sumedang. Tujuan konsolidasi ini adalah untuk menyatukan serta mengingatkan kembali tujuan pokok dari program MBG itu sendiri,” ujarnya setelah usai konsolidasi rapat bersama kasatpel, yayasan, dan mitra di salah satu hotel di Kota Bandung, Sabtu 7 Maret 2026.

Menurutnya, melalui konsolidasi tersebut, seluruh pelaksana program—mulai dari mitra, pemilik fasilitas, yayasan, hingga pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)—diharapkan dapat memahami kembali tujuan utama MBG, yakni memberikan asupan gizi dan meningkatkan kualitas gizi kelompok rentan. Kelompok sasaran program meliputi balita, ibu hamil, ibu menyusui, serta peserta didik.

Selain pemahaman pemahaman program, pertemuan itu juga membahas langkah-langkah peningkatan kualitas kepada layanan para penerima manfaat, termasuk pemerintah daerah dalam mengelola residu kegiatan seperti sampah dari aktivitas dapur MBG. Sony menekankan, bertambahnya jumlah SPPG harus dikeluarkan sistem pengelolaan lingkungan yang baik agar tidak memicu masalah baru.

“Jangan sampai keberadaan SPPG yang saat ini di Kota Bandung sudah mencapai sekitar 295 titik justru menimbulkan isu lingkungan. Misalnya dari sisa makanan atau sisa makanan yang dikembalikan dari sekolah oleh para penerima manfaat yang tidak habis dimakan,” katanya. Ia menegaskan, sisa makanan tidak dapat menumpuk hingga menimbulkan bau dan mengganggu warga. Oleh karena itu, berbagai metode pengolahan sampah perlu diterapkan, mulai dari budidaya maggot, pengolahan menjadi pupuk organik cair, hingga metode ramah lingkungan lainnya.

Sony menilai, program pengelolaan sisa MBG bahkan berpotensi menjadi inspirasi pengelolaan lingkungan hidup, khususnya dalam penanganan sampah di daerah. Salah satu potensi ekonomi yang dibicarakan adalah pemanfaatan limbah minyak jelantah dari dapur SPPG. Dalam satu bulan, satu SPPG diperkirakan dapat menghasilkan sekitar 500 liter minyak jelantah. “Bayangkan jika minyak tersebut dibuang ke saluran air atau parit, tentu akan berdampak buruk bagi lingkungan. Padahal minyak jelantah ini bisa dikumpulkan dan memiliki nilai ekonomi, bahkan bisa dikelola oleh BUMD atau pihak lain yang ditunjuk pemerintah daerah,” ujarnya.

Sementara itu, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Bandung tengah membangun sistem ekonomi sirkular dalam pengelolaan sampah, dimulai dari tingkat kewilayahan. Di tingkat kelurahan, Pemkot telah memiliki fasilitas pemilahan dan pengolahan sampah yang hasilnya dimanfaatkan untuk mendukung program urban farming. “Hasil pengolahan sampah dimanfaatkan sebagai media tanam untuk program urban farming. Hasil panennya kemudian digunakan untuk mendukung dapur sehat,” katanya.

Farhan berharap, ketika kapasitas produksi meningkat, sistem tersebut dapat terintegrasi dengan ekosistem SPPG di setiap wilayah. Saat ini, penanganan sampah makanan masih masuk dalam pengelolaan sampah lingkungan umum, namun ke depan direncanakan menjadi bagian dari skema khusus petugas pemilah dan pengolah sampah. Ia menilai, peningkatan volume sisa makanan dari dapur MBG justru bisa menjadi peluang memperkuat sistem pengolahan sampah di tingkat RW maupun kelurahan.

“Jika dibiarkan, kita kehilangan kesempatan. Namun jika dimanfaatkan, sisa makanan bisa diolah menjadi pupuk cair, pupuk organik, hingga kompos yang bermanfaat,” ucapnya. Sesuai Arah Kementerian Lingkungan Hidup, kompos hasil pengolahan sampah organik tersebut juga dapat diangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA) sebagai bagian dari sistem Sanitary Landfill.

Oleh karena itu, pelaksanaan Program Makan Bergizi tidak hanya fokus pada pemenuhan gizi masyarakat, namun juga berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan. Dari piring makan anak-anak hingga pengelolaan sampah di dapur, MBG didorong menjadi contoh bagaimana kebijakan sosial dan lingkungan bisa berjalan beriringan.

You may also like