JABARTRUST.BANDUNG, – Gunung Batu yang terletak di Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, mengalami peningkatan ketinggian dan pergeseran posisi akibat aktivitas gempa bumi di jalur Sesar Lembang. Penemuan ini dipaparkan oleh Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Mudrik Rahmawan Daryono.
Menurut Mudrik, Gunung Batu dulunya berada satu level datar, namun akibat aktivitas tektonik yang terus berlangsung, gunung ini kini mengalami kenaikan ketinggian secara signifikan dan bergeser ke posisi baru sejauh 120 hingga 450 meter. “Pergeseran yang paling jelas dan terbaru sudah mencapai 120 meter, bergerak sedikit demi sedikit hingga posisinya bergeser sejauh ini,” jelasnya.
Sesar Lembang memiliki panjang sekitar 29 kilometer dan merupakan salah satu sesar aktif utama yang membentang mulai dari Padalarang hingga Jatinangor. Letak Gunung Batu berada di kilometer ke-16 jalur sesar tersebut. Kenaikan ketinggian gunung yang tercatat saat ini mencapai sekitar 40 sentimeter diperkirakan dipicu oleh gempa bumi dengan magnitudo antara 6,5 hingga 7.
“Setiap kali terjadi pergeseran di sesar ini, yang biasanya disertai gempa bumi, Gunung Batu bisa mengalami kenaikan vertikal antara 40 sentimeter hingga satu meter atau lebih,” tambah Mudrik.
Secara geologis, Gunung Batu terbentuk sekitar 510.000 tahun lalu pada masa Pleistosen akibat intrusi magma yang membeku dan membentuk batuan andesit porfir. Kini, di kawasan puncak gunung dipasang berbagai sensor yang berfungsi untuk mendeteksi getaran gempa dari aktivitas Sesar Lembang, termasuk sebuah pos pemantau gempa dari Badan Geologi.
Aktivitas Sesar Lembang selama dua pekan terakhir semakin intens dengan gempa-gempa dangkal berukuran kecil yang mengguncang wilayah Bandung Raya. Peneliti dan badan mitigasi bencana mengingatkan masyarakat untuk selalu siap dan mewaspadai potensi gempa yang mungkin terjadi sewaktu-waktu.
Sesar Lembang sendiri merupakan sumber risiko gempa signifikan di area Bandung dan sekitarnya, dengan kecepatan perpindahan sesar sekitar enam milimeter per tahun. Pemerintah daerah terus melakukan mitigasi dan edukasi guna meminimalisir dampak bencana gempa kepada warga.***