JABARTRUST.BANDUNG, – Jawa Barat kembali menunjukkan aktivitas seismik yang perlu menjadi perhatian warga dan pemerintah setempat. Selama sepekan terakhir, sejumlah gempa mengguncang wilayah ini, dipicu oleh pergerakan sesar aktif seperti Sesar Lembang di Bandung Barat dan Sesar Naik Busur Belakang di Kabupaten Karawang.
Sesar Lembang: Makin Aktif dan Perlu Diwaspadai
Pada 14 Agustus 2025, gempa dangkal berkekuatan magnitudo 1,8 mengguncang Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa gempa ini menunjukkan bahwa Sesar Lembang masih aktif dan berpotensi menyebabkan gempa yang lebih besar.
Sesar Lembang dikenal sebagai salah satu dari 81 sesar aktif di Indonesia. Terletak sekitar 8-10 kilometer di utara Kota Bandung, sesar ini memiliki panjang sekitar 29 kilometer dan bergerak dengan kecepatan sekitar 6 milimeter per tahun. Patahan ini terbagi menjadi enam segmen dengan nama-nama seperti Cimeta, Cipogor, dan Cikapundung.
Menariknya, bentangan sesar ini berbeda karakteristik di tiap sisi. Bagian barat lebih landai dengan dominasi sawah dan pemukiman warga, sementara sisi timur memiliki struktur yang curam hingga 40 derajat, membentuk dinding batu yang kini menjadi salah satu daya tarik wisata di Bandung.
Sesar Naik Busur Belakang Jawa Barat dan Gempa di Karawang
Selain Sesar Lembang, gempa dengan magnitudo 4,7 yang mengguncang Kabupaten Karawang pada 20 Agustus dipicu oleh Sesar Naik Busur Belakang Jawa Barat atau West Java back arc thrust. Sesar ini merupakan sesar dangkal yang juga aktif bergerak di bawah wilayah Jawa Barat.
Segmen Baribis, yang lebih dikenal sebagai Sesar Baribis, merupakan bagian dari sesar ini. Selain segmen ini, beberapa bagian lain yang membentuk sesar tersebut misalnya Segmen Ciremai, Tangkuban Parahu, Citarum, dan lainnya.
Sesar Citarik: Patahan Tua yang Masih Aktif
Sesar lain yang penting diperhatikan adalah Sesar Citarik, ditandai dengan kelurusan aliran Sungai Citarik. Patahan ini membentang dari kawasan pantai tenggara Teluk Palabuhanratu, melewati pegunungan Gunung Salak, hingga wilayah Bekasi.
Berdasarkan data Badan Geologi, sesar ini terbentuk sejak zaman Miosen Tengah sekitar 15 juta tahun lalu dan tetap aktif hingga sekarang. Dari segi pergerakan, awalnya sesar ini menunjukkan kombinasi mode mendatar dan vertikal, namun dalam 2,5 juta tahun terakhir bergerak dengan pola mendatar.
Lokasi sesar ini sangat strategis—melintasi wilayah padat penduduk dan kota besar seperti Jakarta, Bogor, dan Bekasi—sehingga potensi risikonya cukup besar.
Penemuan Sesar Baru di Wilayah Sumedang
Pada 2024, BMKG juga mengungkap adanya sesar baru yang disinyalir menjadi sumber gempa berkekuatan 4,8 yang mengguncang Kabupaten Sumedang pada akhir 2023. Wilayah ini dikenal rawan gempa karena berada di zona tumbukan Lempeng Indo-Australia dan Eurasia.
Selain sesar baru tersebut, sejumlah sesar lain di daratan Jawa Barat, seperti Cimandiri, Cugenang, Cipamingkis, dan Cicalengka, juga masih aktif dan berpotensi menimbulkan guncangan gempa.