JABARTRUST.BANDUNG, – Kasus kematian tragis seorang siswa berusia 16 tahun dari SMAN 6 Kabupaten Garut, yang mengakhiri hidupnya sendiri, akhirnya terkuak melalui hasil investigasi mendalam. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, memerintahkan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi Jawa Barat untuk mengevaluasi keadaan secara menyeluruh setelah satu bulan penyelidikan berlangsung.
Hasil investigasi ini membantah asumsi awal yang beredar di masyarakat, bahwa kematian P disebabkan oleh perundungan (bullying) di sekolah. Kepala BKD Jabar, Dedi Supandi, menegaskan bahwa laporan tim psikolog forensik menunjukkan tidak adanya bukti bullying terhadap P.
“Setelah dilakukan peta temuan dari tim psikolog forensik, semua menyimpulkan tidak ada perundungan,” ungkap Dedi dalam rapat bersama Kriteria Daerah Mandiri (KDM) yang disiarkan lewat YouTube KDM pada Kamis (21/8/2025).
Lebih dari itu, terkuak bahwa P menghadapi berbagai tekanan psikologis yang kian memburuk akibat permasalahan keluarga. Fakta ini membuka dimensi baru dalam memahami latar belakang tragedi tersebut. P ternyata sudah menunjukkan perilaku self-harm sejak duduk di bangku sekolah dasar — sebuah tanda kegelisahan mental yang serius namun kurang mendapatkan perhatian menyeluruh.
Dedi Supandi juga menegaskan, lingkungan sekolah dan tenaga pengajar tidak terlibat dalam perlakuan tidak menyenangkan terhadap korban.
Tak hanya itu, investigasi juga memperlihatkan dampak psikologis yang dalam pada teman dekat korban, B, yang kini menunjukkan gejala depresi serius. Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBPPPA) Kabupaten Garut, Yayan Waryana, menyatakan bahwa B pernah berupaya mengakhiri hidupnya, namun kini sudah mendapat pertolongan psikologis dan telah pindah sekolah.
“B sudah diselamatkan dan kini dalam penanganan tim psikiater,” ujar Yayan.
Kisah duka ini mengingatkan kita akan pentingnya perhatian terpadu, tidak hanya terhadap bentuk penyiksaan fisik atau bullying, tetapi juga dalam mendeteksi dan merawat kesehatan mental anak-anak. Kasus P membuka mata bahwa luka batin sering kali tersembunyi di balik senyum mereka di sekolah.
Upaya kolaboratif antara pemerintah, sekolah, keluarga, dan tenaga profesional menjadi kunci untuk menghindari tragedi serupa dan membantu siswa mengatasi pergulatan psikologis yang mungkin mereka sembunyikan.