Home » Rage Against The Machine: Band Rap Metal dengan Kritikan Politik dan Lantang Protes Rasialisme
Rage Against The Machine: Band Rap Metal dengan Kritikan Politik dan Lantang Protes Rasialisme

Rage Against The Machine: Band Rap Metal dengan Kritikan Politik dan Lantang Protes Rasialisme

by sj
Published: Updated: 49 views

JABARTRUST.BANDUNG, – Sejak berdiri pada tahun 1991 di Los Angeles, Rage Against The Machine (RATM) dikenal sebagai salah satu band yang mengguncang dunia musik dengan liriknya yang sarat kritik sosial dan politik. Mengusung genre rap metal atau rap rock, RATM memiliki ideologi mirip dengan band punk bawah tanah yang menyuarakan pemberontakan melalui karya musiknya.

Band ini dibentuk oleh Tom Morello, yang sebelumnya merasa terjebak dalam band lamanya, Lock Up. Setelah bertemu Zack de la Rocha, vokalis dari band hardcore Inside Out, keduanya memutuskan membentuk grup baru bersama Tim Commerford (bass) dan Brad Wilk (drum), lalu menamainya Rage Against The Machine.

Musik RATM adalah perpaduan unik dari hip hop, funk, heavy metal, dan dance yang terinspirasi oleh berbagai grup seperti Minor Threat, Black Sabbath, Sex Pistols, Public Enemy, Run DMC, hingga Cypress Hill. Langkah mereka pertama kali mencuri perhatian saat merilis demo 12 lagu yang sampul depannya menampilkan gambar Thich Quang Duc, biksu Vietnam yang membakar diri sebagai bentuk protes pada 1963.

Demo tersebut dijual secara independen tanpa label rekaman dan berhasil terjual sebanyak 5.000 kopi. Keberhasilan ini membuka pintu bagi RATM untuk bergabung dengan Epic Records, label besar di bawah Sony. Tom Morello mengaku bahwa Epic menghargai kebebasan ideologis mereka dan tidak pernah menimbulkan konflik selama proses kreatif.

Album debut self-titled mereka yang rilis pada 1992 langsung mendapat sambutan positif, meraih triple platinum dan masuk ke tangga lagu Billboard Top 50 dan UK Top 20. Kesuksesan ini membawa mereka ke panggung festival besar seperti Lollapalooza dan Woodstock, serta menjadi band pembuka dalam tur Public Enemy.

Meski sering diterpa rumor bubar, mereka sukses meluncurkan album kedua berjudul Evil Empire pada 1996, yang menempati puncak Billboard Top 200 dan juga mendapat triple platinum. Sebuah momen ikonik terjadi saat mereka tampil di acara Saturday Night Live pada April 1996, ketika mereka mengekspresikan protes dengan menggantung bendera Amerika Serikat terbalik—aksi yang akhirnya menyingkat penampilan mereka.

Album ketiga RATM, The Battle of Los Angeles, dirilis pada 1999 dan kembali memperoleh sambutan hangat dengan status double platinum serta penjualan yang mencapai 450 ribu kopi hanya dalam minggu pertama.

Namun, pada puncak popularitas, konflik internal dan tekanan dari label rekaman serta tuntutan tur menjadi faktor utama yang memicu bubarnya RATM pada tahun 2000. Insiden paling mencolok terjadi di MTV Video Music Awards 2000 ketika bassist Tim Commerford mendadak naik ke panggung menolak keputusan pemenang kategori Video Rock Terbaik. Aksinya memicu keributan hingga dia diturunkan oleh petugas keamanan.

Satu bulan setelah peristiwa tersebut, Zack de la Rocha memutuskan hengkang dari band. Dalam pernyataannya, ia mengungkapkan rasa kecewa dan malu atas kejadian tersebut serta ketidakmampuan tim untuk mengambil keputusan bersama yang mencerminkan cita-cita artistik dan politik mereka.

“Walau kami berpisah, saya bangga dengan karya kami sebagai musisi sekaligus aktivis dan berterima kasih kepada semua yang telah mendukung kami selama ini,” ungkap de la Rocha.

You may also like